INFORMASI BERAS ORGANIK
Ancaman Produk Agribisnis Tiongkok
Ketar-ketir, cemas, resah dan gelisah, serta segala macam ketakutan merasuki para pengusaha berbagai jenis produk di negeri kita. Pemberitaan berikut dikutip dari Harian Umum Pikiran Rakyat hari Selasa tanggal 5 Januari 2010 :
“Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat Agung Suryamal Sutisno menilai, upaya renegosiasi yang akan dilakukan pemerintah dalam menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) harus segera dilakukan. Menurut dia, hal yang harus dikedepankan dalam negosiasi tersebut adalah mengenai selektivitas barang dan pengunduran waktu era perdagangan bebas tersebut” kemudian pada beberapa paragraf berikutnya :
“Untuk produk pertanian, menurut Agung, yang dihubungi melalui telefon selulernya, Senin (4/1), serangan komoditas pertanian seperti buah-buahan, sayuran, dan bawang putih sudah mulai terasa. Buktinya di Pasar Induk Caringin sudah marak beredar produk sayuran dan buah-buahan asal Cina yang mulai mengancam produk pertanian lokal”.
Last Updated ( Friday, 08 January 2010 09:56 )
Agribisnis Organik dan Social EntrepreneurBudidaya padi secara konvensional yang dilakukan oleh para petani yang sekaligus juga pemilik lahan saat ini bila dihitung memang tidak memberikan kecukupan untuk hidup apalagi secara hitungan bisnis akan kurang menjanjikan. Perhitungan kasar atau sederhananya untuk kepemilikan lahan petani setempat diumumnya banyak daerah (kecuali seperti di Karawang atau Subang utara) yang rata-rata hanya tinggal sekitar ¼ hektar (2.500 m2) hasil yang bisa diperoleh rata-rata adalah sekitar 1,25ton GKP (Gabah Kering Panen) sebelum dipotong bagian pemanen/buruh panen atau sekitar 1,1ton setelah dipotong biaya pemanen, dengan kondisi produktivitas musim tanam berikutnya berpotensi menurun akibat tanah yang semakin ‘sakit’. Pendapatan kotor petani bila gabahnya dijual dengan harga rata-rata sekitar Rp. 2.800/kg (sewaktu panen raya bisa anjlok sampai menjadi Rp. 2.300/kg, dan pada masa 2 bulan sebelum panen berikutnya bisa melonjak menjadi Rp. 3.200/kg) adalah Rp. 3.080.000/Musim Tanam.
Last Updated ( Friday, 08 January 2010 09:56 ) Diversitas Hayati di Lahan SawahKomponen utama dari suatu sistem pertanian organik adalah : Perlindungan Tanah, Bio-Control, Daur Ulang Makanan dan Diversitas/Keragaman Hayati. Saat ini umumnya di tataran petani atau tataran lapangan, pertanian organik baru di persepsikan dengan mengganti pupuk/pestisida kimia sintetis dengan pemakaian kompos dan pupuk/pestisida organik. Hal ini baru memenuhi komponen perlindungan tanah serta sebagian dari komponen Bio-Control dan Daur Ulang Makanan. Sedangkan komponen Keragaman Hayati saat ini belum begitu mendapat perhatian dari para petani yang sudah mulai mencoba meninggalkan pupuk/pestisida kimia sintetis. Pada lahan sawah yang dikatakan sudah mengaplikasikan pola organik pada kenyataannya masih banyak yang menerapkan sistem monokultur atau hanya menanam tanaman padi saja dilahan sawah dan sistem monokultur ini merupakan bagian dari sistem Revolusi Hijau atau sistem Konvensional. Lahan sawah umumnya masih merupakan lahan yang benar-benar sangat terbuka sehingga menyebabkan bekerja di sawah menjadi sangat berat dalam melawan sengatan sinar matahari terutama pada saat musim kemarau. Saat ini seolah-olah sawah tidak dapat dijadikan sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi seperti halnya taman bunga atau kebun buah-buahan.
|
Mata Air = Air Mata ?Ya, banyak mata air di desa-desa kaki pegunungan saat ini yang jadi penyebab banjirnya air mata penduduk di sekitar mata air itu berada. Sawah, sumur, selokan, kolam, sungai yang dahulunya menyediakan atau mengalirkan air nan bening tanpa henti saat ini kering di musim kemarau padahal keberadaannya tidak jauh dari sumber mata air. Eksploitasi berlebihan oleh berbagai industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) adalah salah satu penyebab pasti rusaknya lingkungan tersebut walaupun berbagai macam dalih dilontarkan berbagai pihak yang merasa berkepentingan dalam menangkis tudingan itu dengan menyatakan bahwa pengambilan air sudah sesuai dengan aturan dan sebagainya tetapi fakta dan realita di lapangan tetap tidak bisa terbantahkan bahwa penyebabnya adalah kehadiran mereka. Para petani padi organik binaan GO SRI di daerah Cidahu Kabupaten Sukabumi hanya merupakan beberapa gelintir korban saja dari ratusan atau bahkan ribuan penduduk yang menjadi korban kondisi ini, dan menurut penduduk setempat disana ada sekitar 27 industri Air Minum Dalam Kemasan atau industri yang berbahan baku air dan mungkin yang tercatat secara resmi di Pemda setempat kurang dari jumlah itu.
Last Updated ( Friday, 08 January 2010 09:55 ) Petani Penggarap Hambat Aplikasi Pertanian Organik Pola Tanam SRISosialisasi pertanian padi organik pola tanam SRI cukup diminati oleh pemilik lahan sawah dari kalangan terpelajar untuk diaplikasikan. Seperti diketahui bahwa pada saat ini banyak pemilik lahan persawahan merupakan penduduk perkotaan dengan berbagai macam latar belakang riwayat kepemilikan sawah. Riwayat kepemilikan yang paling umum adalah merupakan warisan dari orang tua atau leluhurnya dan membeli lahan sawah untuk investasi. Umumnya para penduduk kota pemilik sawah di pedesaan ini memiliki pekerjaan sendiri baik sebagai pegawai maupun usahawan yang tidak berkaitan dengan bidang agribisnis. Kondisi tersebut menyebabkan para pemilik sawah ini tidak menguasai permasalahan dalam hal pengelolaan sawah sehingga pengelolaan sawah diserahkan sepenuhnya kepada petani penggarap dengan sistem bagi hasil (sunda: sistem maro). Penyerahan pengelolaan ini kepada petani penggarap umumnya menyebabkan pengelolaan sawah menjadi tidak optimal. Bahkan pada beberapa kasus terjadi hak 'wewenang' pengelolaan sawah ini dialihkan atau di'sub'kan ke petani lainnya sehingga petani penggarap semula hanya berperan sebagai manajer atau bahkan perantara saja. Last Updated ( Saturday, 10 October 2009 10:15 ) |

















