JANGAN RACUNI TANAH ! JANGAN RACUNI TANAMAN ! JANGAN RACUNI TUBUH ANDA !

Membaca berita mengenai busung lapar – tentu ingat beras, membicarakan kemiskinan juga sangat berkaitan dengan beras !!! Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, namun sungguh ironis negeri yang memiliki tanah sangat subur dan pernah dijuluki ‘untaian zamrud di khatulistiwa’ ini selama beberapa tahun pernah menjadi pengimpor beras nomor wahid di dunia. Akan lebih memprihatinkan lagi bila melihat kehidupan para produsen beras ini yaitu para petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat miskin negeri yang buminya subur dan kaya raya ini. Dari beberapa kali dialog dengan masyarakat petani di Jawa Barat juga beberapa daerah lainnya di Indonesia, umumnya mereka sudah pasrah dan putus asa dengan kondisi pertanian ini dan untuk mempertahankan hidupnya banyak dari kalangan petani yang mencari usaha sampingan di kota besar misalnya dengan menjadi penarik beca, tukang gali dan berbagai profesi buruh kasar lainnya selama menunggu masa panen yang sudah tidak terlalu mereka harapkan lagi dan hasilnya hanya sekedar cukup untuk dimakan sendiri dan keluarganya saja. Bertani bagi mereka seolah-olah hanya menjadi sebagai suatu kebiasaan saja yang diturunkan leluhurnya dan sudah tidak bisa diharapkan untuk menjadi sandaran hidup lagi. Ditambah lagi dengan ketidaksadaran para petani terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarganya dan para pengguna produksinya serta lingkungan di sekitar termasuk tanah dan air akibat residu bahan kimia yang terhirup saat penyemprotan, terserap tanah dan yang tertinggal dalam air minum maupun makanan hasil pertaniannya. Tentunya ini bukan murni kesalahan para petani kita, mereka tidak mungkin mengatasi semua persoalan yang dihadapi di bidang pertanian ini tanpa bantuan dan kerjasama dari pihak-pihak yang berkompeten dengan memberikan solusi dan jalan keluar yang tepat untuk permasalahan yang dihadapi.
Berangkat dari keprihatinan dan tantangan ini, para alumni ITB yang tergabung dalam Ganesha Entrepreneur Club/GEC mendirikan unit kegiatan dengan nama Ganesha Organic SRI (GO SRI) dan telah melakukan usaha-usaha dalam mengembangkan serta menyebarluaskan pola pertanian padi SRI Organik yang juga di kembangkan oleh pihak lain seperti Yayasan Aliksa Organic, DPKLTS dan lainnya seperti misalnya dalam bentuk penyelenggaraan pelatihan-pelatihan hasil kerjasama dengan BUMN melalui Program CSR/PKBL dan melalui pengelolaan demplot. Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Walaupun untuk saat ini ITB belum memiliki Fakultas Pertanian dan para alumni ini tidak satupun berlatar belakang secara formal dari bidang pertanian, tidak menjadikan hal ini sebagai suatu hambatan untuk turut serta dalam berkontribusi memperbaiki kondisi pertanian di Indonesia. Para personil utama GO SRI yang memang terjun ke bidang ini dengan landasan kecintaan terhadap dunia pertanian dan lingkungan hidup selain juga ada diantaranya memang berlatar belakang keluarga petani telah mempelajari metoda SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) ini dari berbagai pihak baik melalui pelatihan/kursus, seminar juga mengikuti dan terlibat secara langsung dalam proses pelaksanaan pertanian SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) dibeberapa lahan yang sudah melaksanakannya. Untuk menunjang kegiatan operasionalnya GO SRI merekrut sarjana lulusan fakultas pertanian dari beberapa Perguruan Tinggi yang ditempatkan sebagai Supervisor di lahan-lahan pertanian. Visi dari GO SRI adalah “Mewujudkan Pertanian Indonesia Yang Unggul, Mandiri, Berkelanjutan, Ramah Lingkungan Dan Bernilai Ekonomis Tinggi”, sedangkan misinya :
- Meningkatkan sosialisasi Pola Tanam Padi SRI Organik
- Meningkatkan jumlah lahan yang digarap secara SRI Organik
- Turut meningkatkan daya serap pasar terhadap produk padi/beras organik
- Penciptaan alat-alat pertanian yang murah, ergonomis dan praktis
- Mengurangi ketergantungan petani terhadap pihak luar sehingga menjadi petani yang mandiri
- Menjaga kelestarian lingkungan
- Mempertahankan taraf kesehatan petani dan yang mengkonsumsi hasil pertaniannya
- Menjadikan budidaya pertanian padi menjadi usaha andalan yang menguntungkan
Disaat-saat awal penggarapan lahan demplot diantaranya di desa Cijambe Subang, GO SRI hanya memanfaatkan sumber daya internal yang dimiliki namun untuk pengembangan demplot di beberapa daerah lainnya kemudian menggandeng beberapa Investor untuk pembukaan demplot ini sekaligus sebagai area produksi selain melalui kerjasama dengan BUMN melalui program CSR/PKBL. Tujuan utama dalam pemberdayaan petani pada kenyataannya tidak selalu dapat dicapai dengan pembukaan demplot ini bersama Investor, sangat tergantung sekali kepada karakteristik Investor yang bermacam-macam yaitu ada yang hanya sekedar orientasi bisnis tetapi ada juga yang memang mempunyai visi yang sama dengan GO SRI dalam memberdayakan petani. Untuk menghindari konflik kepentingan dalam pengelolaan lahan selanjutnya maka mulai bulan September 2009 GO SRI akan lebih banyak memanfaatkan kerjasama dengan para Donatur/Sponsor sehingga visi untuk turut serta memberdayakan petani dan memajukan pertanian Indonesia melalui aplikasi pertanian Organik Pola Tanam SRI terintegrasi dapat tercapai tanpa harus menekankan kepada kepentingan bisnis semata sehingga mengorbankan kepentingan dalam memberdayakan petani. Daerah pertama yang akan dijadikan lokasi pelaksanaan pemberdayaan desa dan masyarakat petani ini adalah Kampung Pabuaran Desa Cijambe Kabupaten Subang (6o37’05.80”S;107o44’47.00”E) yang baru terbuka dari isolasi sejak tahun 2007 karena sebelumnya tidak memiliki sarana jalan yang memadai. Saat ini pihak GO SRI baru memiliki lahan demplot seluas sekitar total 1,5 hektar dan masih memerlukan kerjasama dengan para Donatur/Sponsor diantaranya untuk keperluan pinjaman pembiayaan pengolahan lahan bagi para petani yang tertarik untuk mengikuti program ini sedangkan penyelengaraan pelatihan singkatnya sudah dilaksanakan melalui kerjasama dengan PTPN VIII pada tahun 2008 lalu. Dalam kaitan tersebut GO SRI akan terbuka menerima donasi dan kerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. Penerimaan dan pengeluaran dana dari pihak Donatur/Sponsor dapat diakses melalui website ini oleh para Donatur/Sponsor yang bersangkutan. Beberapa kegiatan sosialisasi berupa pelatihan yang melibatkan GO SRI diantaranya :
| Tanggal/Bulan/Tahun | Tempat | Penyelenggara |
| 20/04/08 | Sapan Gedebage Kabupaten Bandung | Kelompok Tani Bina Harapan Gedebage dan PKBL Pertamina |
| 25/04/08 – 28/04/08 | Cijambe Kab. Subang | GO SRI |
| 09/06/08 – 12/06/08 | Purwokerto Jawa Tengah | PKBL PT. Rekayasa Industri |
| 20/06/08 | Cipanas Puncak | (Bank) BRI |
| 27/06/08 – 30/06/08 | Banyuwangi Jawa Timur | PKBL PT. Rekayasa Industri |
| 22/08/08 – 26/08/08 | Semarang Jawa Tengah | Dinas KUKM Jawa Tengah |
| 15/10/08 – 17/10/08 | Cijambe Kab. Subang | GO SRI |
| 27/11/08 – 30/11/08 | Cijambe Kab. Subang | PKBL PTPN VIII |
| 10/01/09 | Sapan Gedebage Kabupaten Bandung | Kelompok Tani Bina Harapan Gedebage |
| 14/01/09 – 16/01/09 | Lhok Seumawe Aceh Utara | PT. PIM |
| 14/02/09 – 15/02/09 | Banjaran Kab. Bandung | GO SRI |
| 03/04/09 – 04/04/09 | Nganjuk Jawa Timur | Ikatan Pemuda NU |
| 21/11/09 – 22/11/09 | Compreng Kab. Subang | PKBL PT. Rekayasa Industri |
| 25/12/09 – 27/12/09 | Cibaliung Kab. Pandeglang | Yayasan Auliya Banten Enlightenment |
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
- Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
- Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
- Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
- Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Last Updated ( Tuesday, 05 January 2010 14:12 )
Tentang Kami















