Bung Alba Sahabat Petani – Menanggulangi Serangan Tikus
Kalau saat ini membicarakan burung hantu yang teringat mungkin Limbad dengan wajah seramnya atau Harry Potter si Penyihir Cilik yang buku-buku dan filmnya selalu laku keras. Burung hantu sesuai namanya memang mengesankan sesuatu yang misterius dan mistis, namun burung hantu juga sering dipakai sebagai representasi dari ilmu/pendidikan, karena mungkin masih sering terjadi malam-malam para pelajar/mahasiswa harus begadang untuk belajar menghadapi ujian besoknya karena berlakunya SKS (sistem kebut semalam). Jenis burung hantu sangat banyak sekali dan dapat dipelajari di situs-situs mengenai burung hantu diantaranya http://www.owlpages.com.
Ternyata burung hantu pun memiliki peran yang sangat penting untuk dunia pertanian. Salah satu makanan utama beberapa jenis burung hantu adalah tikus sedangkan tikus merupakan salah satu Organisma Pengganggu Tanaman/OPT penting di bidang pertanian yang dapat menyebabkan kerusakan sangat parah. Dalam satu malam saja kerusakan yang diakibatkan oleh serangan tikus bisa mencapai puluhan hektar dalam satu wilayah sehingga tikus merupakan OPT yang paling ditakuti oleh petani. Selain itu, tikus dan ‘saudara’ sejenisnya yaitu babi hutan yang biasanya saat menyerang areal persawahan/ladang datang secara bergerombol dalam kelompok-kelompok yang masing-masing memiliki pemimpin, umumnya memiliki kedudukan mistis di masyarakat petani pedesaan, ada yang ‘mengasuh’, ada yang ‘mengirim’ dan bermacam-macam dugaan terhadap serangan tikus yang terjadi. Di beberapa tempat di Jawa Barat karena sifat mistisnya, banyak penduduk yang enggan menyebutkan namanya secara tegas tetapi cukup dengan sebutan ‘hama’ atau ‘si monyong’ bahkan di kalangan masyarakat jawa ada sebutan ‘den bagus’ untuk tikus ini. Berbagai macam dan cara dilakukan untuk menanggulangi OPT ini mulai dari yang masuk akal sampai dengan yang ‘aneh’. Umumnya yang dilakukan para petani dalam ‘memerangi’ tikus ini adalah dengan ditangkap beramai-ramai, lubang tikus diasapi dengan asap belerang, menggunakan anjing yang sudah dilatih untuk memburu tikus, memberikan umpan beracun, memagari sawahnya dengan plastik, memasang perangkap dan yang tidak lazim diantaranya dengan mengitari sawah malam-malam sambil mengamalkan bacaan-bacaan tertentu atau melakukan acara ‘ritual’ di sawah yang diikuti dengan menebarkan minyak zaparon di pematang sawah sampai ada juga yang tertipu oleh pedagang oli bekas dengan mencampurkan racun ke oli bekas kemudian ditumpahkan ke air sawah sehingga oli beracun tersebut menempel ke bulu tikus dan tikus yang menjilati bulunya akan teracuni, hanya saja malangnya selain tikusnya mati kena racun, tanaman padinya juga banyak yang ikut mati tercemar oli bekas. Keberhasilan melalui penanganan yang tidak lazim seperti rajin mengitari sawah dan menebarkan minyak zaparon kalau dianalisa secara rasional memang memungkinkan juga, karena bila sawah sering didatangi manusia menyebabkan tikus enggan untuk memasukinya karena adanya bau manusia di tempat itu, demikian juga bila ada bau minyak zaparon ada kemungkinan tikus tidak menyukainya sehingga menghindari tempat tersebut. Gabungan dari kedua cara itu yang murah dan mudah diantaranya bisa dengan melakukan penyemprotan urine manusia ke sawah (apalagi sebelumnya sudah makan jengkol) dan itu pernah juga dilakukan, hasilnya sawah yang disemprot dengan urine manusia selamat sedangkan sawah disekitarnya cukup parah terkena serangan tikus. Cara lain yang pernah ada juga yang mempraktekkannya yaitu dengan menyemprotkan air dari rendaman bangkai tikus ke sawah dan hasilnya cukup membantu juga dalam mengusir tikus.
Untuk masyarakat petani yang kreatif serta pola fikirnya lebih maju dan juga peduli lingkungan, serangan tikus ini menjadi sumber tambahan penghasilan. Mereka menangkarkan ular sawah sehingga jinak karena dipelihara sejak kecil dan kemudian ‘merentalkannya’ untuk menangkap tikus. Area sawah yang terkena serangan tikus dipagari dengan lembaran-lembaran plastik dan kemudian ular-ular sawah milik mereka dilepaskan selama beberapa hari di sawah yang sudah dipagari dan membiarkan para ular ini ‘berpesta pora’ menikmati tikus segar selama beberapa hari sampai serangan tikus mereda. Kalau tikus memiliki bobot mistis, maka ular apalagi lebih tinggi bobot mistisnya. Penanggulangan tikus yang juga sangat rasional, ramah lingkungan dan efektif adalah dengan menggunakan burung hantu jenis tyto alba yang banyak terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Namun sayangnya pandangan mistis juga masih melekat pada keberadaan burung tyto alba ini yang didaerah sunda disebut dengan ‘koreak’. Bila mendengar suara burung ini ada sebagian penduduk yang masih berusaha mengusirnya dengan alasan kalau ada suara burung itu seram, ngeri, biasanya pertanda akan ada yang meninggal dunia, artinya burung tersebut diusir untuk menghindari supaya tidak ada yang meninggal dunia ditempat itu atau tidak jadi meninggal dunianya. Logika yang aneh memang……… Tetapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga dugaan demikian karena biasanya akan segera ada si monyong yang meninggal di tempat tersebut karena disantap Bung Alba yang tiap malam harus makan agar bisa bertahan hidup, kalau tidak ada si monyong maka yang terpaksa meninggal adalah ikan yang ada di kolam. Bung Alba yang dipelihara ini untuk sementara dapat ditempatkan di sangkar kawat yang cukup besar dan di dalamnya disediakan pagupon (kandang merpati) sampai Bung Alba ini terbiasa pada siang hari berada di dalam pagupon ini. Selama pemeliharaan sebaiknya Bung Alba ini diberi makan tikus atau bila sulit menangkapnya bisa diberi makan dengan ikan atau kepala ayam yang bisa dibeli cukup murah di pasar (1 kg antara 6.000 – 10.000) dan cukup untuk sekitar 2 pekan untuk 1 ekor Bung Alba. Bila sudah terbiasa dengan ‘rumahnya’, Bung Alba ini dapat dipindahkan dengan paguponnya ke daerah pesawahan yang terkena serangan tikus. Pagupon ini bisa ditempatkan di atas pohon atau dengan membuat tiang dan disimpan di tempat yang cukup teduh sehingga Bung Alba pada siang hari tidak menjadi gerah karena kepanasan dan bisa betah di rumahnya. Di sawahnya sendiri disediakan ‘tempat nongkrong’ Bung Alba di malam hari berupa beberapa tiang berbentuk ‘T’ yang dirancang lebih tinggi dari tanaman padi. Bung Alba juga dapat bersarang di dalam atap rumah sehingga sebaiknya rumah-rumah penduduk atau gedung fasilitas umum seperti mesjid, kantor desa, sekolah dan lainnya yang dekat pesawahan menyediakan jalan masuk ke atap dari luar untuk berbagi tempat dengan Bung Alba ini, resikonya setelah cukup lama jadi agak bau anyir kalau jarang dibersihkan tempat yang dijadikan ‘rumah’ Bung Alba ini.
Beberapa cuplikan pemberitaan mengenai keberhasilan pemanfaatan Bung Alba untuk mengendalikan serangan tikus:
Website Dinas Pertanian Jawa Timur :
HASIL PEMANFAATAN BURUNG HANTU UNTUK PENGENDALIAN TIKUS SAWAH DI KABUPATEN NGAWI
Dampak dari pengembangan pagupon burung hantu yaitu menurunnya luas serangan tikus di kecamatan Ngrambe sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2004. Semakin banyak jumlah pagupon semakin berkembang populasi burung hantu, sehingga semakin menurun luas serangan tikus di Kecamatan Ngrambe.
Kumulatif luas serangan tikus di Kecamatan Ngrambe Tahun 1995-2004
Tahun Luas Serangan (Ha)
1995 109,75
1996 111,00 sebelum ada pagupon
1997 120,00 pagupon ada tetapi belum berkembang
1998 136,50
1999 63,75 mulai ada perkembangan di pagupon
2000 51,25
2001 44,50
2002 82,50
2003 3,75
2004 6,50 jumlah pagupon bertambah sampai 127 buah
(ditulis oleh Setyono, Juliastuti, Suwarsono Edy Santoso)
Harian Umum Kompas, 20 Februari 2004 :
BURUNG HANTU KURANGI HAMA TIKUS
Kendal, Kompas - Perkembangbiakan burung hantu (tyto alba) sebagai pengendali hama tikus di Kabupaten Kendal dinilai berhasil. Dari 50 pasang burung hantu, yang dilepas oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Kendal pada 15 desa di 10 kecamatan dalam kurun waktu Juli 2000 sampai Agustus 2002, saat ini sudah dapat ditemukan 586 pasang burung hantu.
Dampaknya, hama tikus berkurang akibat dimangsa burung hantu sehingga lahan yang diserang tikus berkurang 50 persen, dari 3.430 hektar menjadi 1.700 hektar pada tahun 2003. Biaya pengembangbiakan burung hantu pada APBD Kabupaten Kendal pada Tahun Anggaran 2000-2002 disediakan sebesar Rp 52 juta, dan dari kegiatan itu dapat diselamatkan hasil panen padi setara Rp 2,27 miliar.
"Pada tahun 2001 Kabupaten Kendal merupakan kabupaten kedua di Jawa Tengah yang mengalami kerugian terparah akibat serangan hama tikus. Setelah menggunakan metode perburuan tikus oleh para petani, peracunan, dan pengasapan dengan gas belerang, kami beralih ke metode penggunaan burung hantu yang kami nilai lebih berhasil. Burung hantu itu kami datangkan dari Aceh dan Sumatera Utara," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Kabupaten Kendal Sumantri Bambang Widodo, Kamis(19/2).
Yuu ah kita lestarikan keberadaan Bung Alba dengan membiarkannya hidup bebas dan juga melakukan penangkaran untuk menyebarkannya ke daerah-daerah pesawahan yang masih rawan terhadap serangan tikus dan belum ada komunitas bung Alba disana.
Utju Suiatna
Ganesha Organic SRI/GO SRI
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
http://www.infoorganik.com| Comments |
|
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."
Last Updated ( Friday, 15 January 2010 15:23 )
















